Split, Sepi di kepulauan Togean by Benny Zuniar

Select album to play

previous next
 

Split, Sepi di kepulauan Togean

Togean - Hotel California Reef

Rencana singkat dibuat kurang lebih satu bulan setelah membaca status teman yang sedang rindu bertemu temannya di sebuah kota di Sulawesi Utara, terwujudlah perjalanan Trans Sulawesi di minggu kedua Desember 2012.

Dimulai dari Menado, kota ramai ini sangat berkesan dengan makanan dan hiburannya yang buanyak selalu bikin senang mengunjunginya. Cuaca panas di pagi sampai siang hari disambung dengan hujan di sore hari sampai malam.

Tidak sabar bertemu teman di Kotamobagu untuk pertama kalinya, saya melanjutkan perjalanan yang katanya 3 jam tapi ternyata 5 jam ini tidak terasa karena sepanjang perjalanan pemandangan bukit, pohon kelapa, pesisir pantai membuat mata juga segar.

Sampai di Kotamobagu, disambut Gunung Tete, karena bentuknya berdampingan  meskipun gak sama besarnya. Kota kecil tapi ramai ini buat saya ya asik dinikmati, tapi untuk teman yang biasa hidup di Bandung dan Jakarta, tinggal disini mungkin akan membosankan. Tapi kunjungan ini sangat penting. Menghabiskan waktu ngobrol dengan teman dan keluarganya didampingi beberapa botol Kasegaran jadi berkesan buat saya yang sudah diundang datang.

Karena saya merencakanan pulang dari Gorontalo, saya pilih untuk berkunjung ke kepulauan Togean. Perjalanan 6 jam melalui jalus Trans Sulawesi bagian pantai selatan dijalani termasuk melewati daerah Dumoga yang sedang ramai konflik antar kampong. Kabupaten2 di daerah Minahasa Selatan dan Minahasa Utara sedang ramai dengan pencarian dan perebutan tambang emas.

Sampai di Gorontalo saya langsung menuju pelabuhan dan melanjutkan perjalanan malam hari dengan Ferry Tomini ke Wakai yang menjadi salah satu pintu masuk kepulauan Togean. 12 jam perjalanan saya habiskan dengan tidur.

Sampai di Wakai saya langsung mencari makan dan berencana mandi di air terjun Tanimbo sambil menunggu kapal ke Katupat dan Malenge  yang akan datang jam 2 siang. Selama menunggu tidak ada listrik karena listrik menyala mulai jam 6 sore sampai jam 6 pagi.

Kedatangan kapal siang itu ditandai dengan mulai banyaknya anak2 berlarian, motor motor ber seliweran menuju dermaga. Saya pun menyusul, padahal kapal sendiri belum berlabuh, tapi angkutan barang-barang kebutuhan sudah memenuhi dermaga.

Katupat

30 menit kemudian saya sampai di Fadhila cottage Katupat.Pemandangan pasir warna krem, air pantai yang jernih, ditambah terumbu karang dan ikan warna warni bisa dilihat jelas.Tapi tidak ada televise & sinyal telpon

Istirahat sebentar di sore hari  menunggu matahari terbenam dan makan malam. Ketika makan saya berkenalan Cathy dan Mischa dari Coventry, Inggris juga Evi dan Sebastian dari Bordeaux, Perancis Obrolan saya buka dengan isu Royal Baby dilanjutkan dengan Glastonbury Festival  dan Arras Main Square yang cukup lama sampai dengan jam 10 malam. Kebingungan mulai datang, karena jam 11 malam listrik akan mati, sedangkan saya biasa tidur jam 1 ato 2 pagi. Terpaksa mata harus terpejam meskipun belum ngantuk.

Paginya saya berkeliling di pantai yang ada didepan cottage kemudian saya habiskan waktu mendengarkan  lagu-lagi dari split albumnya The Dying Sirens dan Pop Up. Our Times Our Feelings dari The Dying Sirens  baru dinikmati pagi hari di pantai sebuah pulau terpencil jadi ingin meluk sesorang. Mensyukuri jatuh cinta dengan segala keadaan termasuk berbeda jarak, berbeda sifat sangat berarti ketika mendengarkan lagu ini disambung dengan lagu The Falls of the Idiot Dengan segala keindahalan kepulauan Togean ini saya lebih mengerti untuk lebih merasakan ke dalam daripada berpikir akan sekeliling. Perasaan ini diiyakan ketika mendengarkan lagu Taman dari Pop Up. Ajakan menggunakan semua panca indera untuk dapat merasakan sesuatu lebih dan lebih.  Dalam arti sebenarnya keindahan dalamnya laut  sekitar kepualauan Togean ini juga harus dinikmati  dengan semua panca indera. Meskipun saya kurang suka dengan melodi2 dari Pop Up, tapi saya suka dengan lirik2nya, salah satunya ‘leave ur past behind, bittersweet memories are moments” dari lagu Spin The Bottle. Mendengarkan split album ini santai saja, cek dan bisa dibeli disini http://popsirensrecords.multiply.com.

Malenge

Pagi pertama jadi sangat santai sambil menikmati teh saya berkenalan dengan Mattias dari Bassel, Swiss. Dia sudah berkeliling di Indonesia Timur, sebagian bagian Barat. Uang simpanan nya dia habiskan untuk berkeliling dunia, Benua yang belum dia jelajahi hanya Afrika. Hal tersebut tidak membuat saya minder karena dia sangat jatuh cinta dengan Indonesia, tapi dia tidak bisa bekerja di Indonesia. Gajinya terlalu kecil untuk gaya hidup  dan biaya travellingnya dia. Dia akan menhabiskan sisa dua bulannya untuk berkujung ke Jakarta, Bandung, Padang dan Aceh. Kemudian kami berencana untuk canoeing mengelilingi pulau dan merencanakan diving, tapi saya hanya snorkeling di dua spot reef.

Wisatawan local yang berkunjung kesini hanya saya sendiri. Orang local disini hanya pemilik dan pegawai di cottage ini. Tapi jika saya mau bermain ke desa di sebrang pulau mereka bisa mengantar gratis dengan perahu, tapi kalo menyebrang antar pulau, biaya sewa perahu 300 – 500ribuan.

Menghabiskan waktu siang dan sore jika tidak berjalan jalan di sekitar pulau dan antar pulau disini ya ngobrol, bermain kartu atau membaca. Untuk diving dan snorkeling banyak spot, termasuk di depan dermaga cottage. Di pagi hari kita bisa menemukan banyak lion fish, dan butterfly fish.

Wakai

Setiap hari melihat sekeliling yang sangat sepi  dan tenang tanpa beban, meninggalkan keresehan. Menunggu pun menjadi bagian yang harus dinikmati, semua tidak mudah didapat. Selain music yang didengarkan bisa membuat saya senang, mendengarkan suara kapal dari jauh juga jadi sangat menyenangkan

Here, I listen  & feel more than I speak, with tranquility

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

 

 
 
previous next
X